The Swift Effect: Mengulas Peran Taylor Swift dalam Perekonomian Global

Jakarta

Fandom merupakan sebuah komunitas yang memiliki pengaruh besar dalam berbagai hal, terutama ekonomi. Kita kerap tidak menyadari bahwa komunitas penggemar suatu sosok dapat berpengaruh sangat besar dalam hal penjualan dan bisnis. Siapapun yang belum menyadari akan hal ini harus mengetahui mengenai adanya “The Swift Effect,” sebuah kemampuan Taylor Swift dalam mengangkat sales dan engagement akan suatu produk, program, dan banyak hal lainnya hanya dengan menghadiri atau mengenakannya.

The Swift Effect adalah hal semakin nampak semenjak Taylor Swift berpacaran dengan pemain American football dari tim Kansas City Chiefs, Travis Kelce. Faktanya, acara Super Bowl yang menayangkan pertandingan NFL di CBS berhasil meraih angka 123,4 juta penonton streaming. Angka tersebut menjadikan Super Bowl 2024 sebagai Super Bowl yang paling banyak ditonton sepanjang masa dan program TV kedua yang paling banyak ditonton dalam sejarah setelah pendaratan Apollo 11 di bulan.

Pemilik waralaba Kansas City Chiefs, Clarke Hunt, mengaku senang dengan pengaruh Taylor Swift. Ia mengatakan, “Yeah, that’s been so exciting and completely unexpected…We have a lot of ‘Swifties’ in our household who are big fans of her, and it’s been fun to see her and Travis’ relationship develop. We’re so happy for the two of them. As a result, we do have a whole bunch of new fans, and that’s been fantastic. Not only here in North America, but really across the globe.”

Melansir The University News, Apex Marketing Group mengatakan bahwa secara umum, keterlibatan Taylor Swift di NFL telah menambahkan nilai brand NFL dan Chiefs sebanyak $330 juta. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, Taylor Swift tidak melakukan hal banyak untuk memberikan keuntungan pada NFL, melainkan hanya sekadar menghadiri acara tersebut untuk memberikan dukungan emosional kepada kekasihnya, Travis Kelce.

Swiftonomics yang Dicintai Singapura, Dicibir Thailand

Tidak sampai disini saja, The Swift Effect ini juga mengacu pada istilah “Swiftonomics” yang merupakan penggabungan kata “Swift” dan “economics.” Swiftonomics telah muncul sebagai gambaran yang kuat mengenai dampak ekonomi yang dihasilkan oleh tur yang dilakukan oleh superstar global tersebut, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Fenomena ini, yang pertama kali diidentifikasi oleh analis ekonomi Augusta Saraiva, menyoroti guncangan permintaan pasca-COVID, dengan Eras Tour milik Taylor Swift yang berfungsi sebagai katalis bagi aktivitas ekonomi yang signifikan di berbagai negara.

Menurut Sky News, Singapura telah mendapatkan perjanjian eksklusif untuk mencegah Taylor Swift tampil di negara Asia Tenggara lainnya, menurut Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin. Dia mengungkapkan bahwa promotor konser AEG memberinya pengarahan tentang kesepakatan yang memastikan “The Eras Tour” Swift tidak akan melewati negara-negara lain dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Memuji langkah strategis Singapura, Thavisin mengungkapkan rasa penasarannya sebelumnya tentang mengapa Swift tidak merencanakan pertunjukan apa pun di Thailand. Ia belajar dari AEG bahwa menjadi tuan rumah Swift di Thailand akan lebih hemat biaya dan berpotensi menarik sponsor serta wisatawan tambahan. Meskipun diperlukan subsidi setidaknya 500 juta baht, dia yakin investasi tersebut akan bermanfaat bagi perekonomian Thailand.

Menyesali kesempatan yang terlewatkan, Thavisin mengatakan dalam pidato utamanya, “Seandainya saya mengetahui hal ini, saya akan berusaha keras untuk membawakan pertunjukannya ke Thailand,” menekankan manfaat ekonomi yang dapat diberikan oleh konser Taylor Swift kepada suatu negara.

(DIP/alm) 

Updated: Februari 22, 2024 — 6:10 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *